Saat aku beranjak dewasa, aku mulai mengenal sedikit kehidupan yang menyenangkan, merasakan kebahagiaan memiliki wajah yang tampan, kebahagiaan memiliki banyak pengagum di sekolah, kebahagiaan karena kepintaranku yang dibanggakan banyak guru. Itulah aku, tapi satu yang harus aku tutupi, aku malu mempunyai seorang ibu yang BUTA! Matanya tidak ada satu. Aku sangat malu, benar-benar malu.
Aku sangat menginginkan kesempurnaan terletak padaku. Aku ingin menjadi yang terwah, tak ada satupun yang cacat dalam hidupku juga dalam keluargaku. Saat itu ayah yang menjadi tulang punggung kami sudah dipanggil terlebih dahulu oleh yang Maha Kuasa. Tinggallah aku anak semata wayang yang seharusnya menjadi tulang punggung pengganti ayah. Tapi semua itu tak kuhiraukan. Aku hanya mementingkan kebutuhan dan keperluanku saja. Sedang ibu bekerja membuat makanan untuk para karyawan di sebuah rumah jahit sederhana.
Pada suatu saat ibu datang ke sekolah untuk menjenguk keadaanku. Karena sudah beberapa hari aku tak pulang ke rumah dan tidak menginap di rumahku. Karena rumah kumuh itu membuatku muak, membuatku kesempurnaan yang kumiliki manjadi cacat. Akan kuperoleh apapun untuk menggapai sebuah kesempurnaan itu.
skip to main |
skip to sidebar
Sabtu, 21 November 2009
Kisah ibu buta
CLOCK
Labels
- artikel (2)
Blog Archive
-
▼
2009
(21)
-
▼
November
(12)
- 10 Kualitas Pribadi Yang Di Sukai
- Sesungguhnya wanita itu mutiara
- Kisah ibu buta
- Tanpa judul
- Cinta tanpa syarat
- Kenakalan remaja dan kenakalan orang tua
- Program shutdown timer
- HIKMAH KEMATIAN
- Jakarta as a Bad Working Place for Expatriates
- Sukses yang terkucilkan
- Mengenal motifasi
- KEADILAN TUHAN BAGI HIDUPKU
-
▼
November
(12)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar